Selasa, 26 Maret 2013

Sastra Banjar II


Raudatul Janah
PBS/ PBSI REGULAR '10
Sastra Banjar II
Drs. Rustam Effendi, M. Pd., Ph. D.

RESUMAN

A.       Beberapa contoh folklor lisan Indonesia
Beberapa contoh folklor lisan Indonesia yang akan kami sajikan dalam karangan ini adalah mengenaui (a) bahasa rakyat, (b) ungkapan tradisional, (c) pertanyaan tradisional, (d) sajak dan puisi rakyat, (e) cerita prosa rakyat dan (f) nyanyian rakyat.
(1)     Bahasa Rakyat
Bentuk-bentuk folklor Indonesia yang termasuk dalam kelompok bahasa rakyat adalah logat (dialek) bahasa-bahasa Nusantara. Bentuk lain bahasa rakyat adalah slang. Menurut kamus Wheter’s New World Dictionary of the American Language (1959), asal slang adalah kosa kata dan idiom para penjahat gelandangan atau kolektif khusus. Maksud diciptakannya bahasa slang ini adalah untuk menyamarkan arti bahasanya terhadap orang luar. Pada masa kini slang dalam arti khusus itu (bahasa rahasia) disebut cant. Di Jakarta misalnya cant adalah istilah-istilah rahasia yang dipergunakan tukang copet seperti: jengkol dan rumput. Cant khusus milik penjahat sering juga disebut argot. Bentuk cant atau bahasa rahasia yang lain adalah yang dimiliki para homoseks (gay) laki-laki di Jakarta yang mencari nafkah sebagai penata rambut, perancang pakaian, peragawan, dan sebagainya.
Bahasa rakyat lainnya yang mirip dengan slang adalah yang disebut shop talk atau bahasa para pedagang. Selanjutnya bentuk lain slang adalah colloquial, yakni bahasa sehari-hari yang menyimpang dari bahasa konvensional. Bentuk bahasa rakyat yang lain adalah yang disebut sirkumlokusi (circumloution), yaitu ungkapan tidak langsung. Bentuk bahasa rakyat yang lain lagi di Indonesia adalah cara pemberian nama pada seseorang. Sehubungan dengan cara pemberian nama, di Indonesia juga ada kebiasaan untuk memberi julukan kepada seseorang, selain nama pribadinya. Bentuk folklor lainnya yang juga termasuk dalam golongan bahasa rakyat adalah gelar kebangsawanan atau jabatan tradisional.
Bentuk lain lagi bahasa rakyat adalah yang disebut bahasa bertingkat (speech level). Bahasa bertingkat adalah bahasa yang dipergunakan dengan mengingat akan adanya perbedaan dalam lapisan masyarakat, tingkatan masyarakat, atau tingkatan umur. Bentuk lain dari bahasa rakyat adalah yang disebut kata-kata onomatopoetis (onomatopoetic), yakni kata-kata yang dibentuk dengan mencontoh bunyi atau suara alamiah. Bentuk terakhir bahasa rakyat yang akan kami kemukakan di sini adalah yang disebut onomastis (onomastic), yakni nama tradisional jalan atau tempat-tempat tertentu yang mempunya legenda sebagai sejarah terbentuknya.
Fungsi bahasa rakyat sedikitnya ada empat, yakni: (a) untuk memberi serta memperkokoh identitas folknya (slang, cant, shop talk, argot, jargon, nama gelar, bahasa bertingkat, colloquial, onomatopoetis, dan ononastis); (b) untuk melindungi folk pemilik folklor itu dari ancaman kolektif lain atau penguasa (slang, bahasa rahasia, dan cant); (c) untuk memperkokoh kedudukan folknya pada jenjang pelapisan masyarakat (gelar dan bahasa bertingkat); dan (d) untuk memperkokoh kepercayaan rakyat dari folknya (sirkomlokusi dan julukan atau alias yang diberikan kepada anak-anak yang buruk kesehatannya.
Contoh bahasa rakyat dalam Banjar adalah dalam penukaran nama sering dilakukan dengan nama yang lebih jelek, seperti anak yang badannya terlalu gemuk, maka dia dipanggil dengan dibelakang namanya ada tambahan lamak.

(2)     Ungkapan Tradisional
Cervantes mendefinisikan ungkapan tradisional sebagai “kalimat pendek yang disarikan dari pengalaman yang panjang”, sedangkan Bertrand Russel mengangganya sebagai “kebijaksanaan orang banyak yang merupakan kecerdasan seorang” (the wisdom of many, the wit of one) (lihat Dundes, 1968). Carl Wilhelm von Sydow, sewaktu ia membuat penggolongan orang-orang yang mengetahui suatu bentuk folklr. Orang-prang itu oleh Sydow digolongkan mejadi dua: pewaris pasif (passive bearer) dan pewaris aktif (active bearer) adalah pewaris folklor yang sekedar mengetahui dan dapat menikmati suatu bentuk folklor, namun tidak dapat atau tidak berminat untuk menyebarkannya secara aktif pada orang lain.
Ungkapan tradisional mempunyai sifat hakiki, yang perlu diperhatian oleh mereka yang hendak menelitinya: (a) peribahasa harus berupa satu kalimat ungkapan, tidak cukup hanya berupa satu kata tradisional saja, (b) peribahasa ada dalam bentuk yang sudah standar, (c) suatu peribahasa harus mempunyai vitalitas (daya hidup) tradisi lisan, yang dapat dibedakan dari bentuk-bentuk klise tulisan yang berbentuk syair, iklan, reportase olahraga, dan sebagainya (Brunvand, 1968: 38).
Peribahasa dapat dibagi menjadi empat golongan besar, yakni:
a.                   Peribahasa yang sesungguhnya adalah ungkapan tradisional yang mempunyai sifat-sifat: (1) kalimatnya lengkap, (2) bentuknya biasanya kurang mengalami perubahan, (3) mengandung kebenaran atau kebijaksanaan.
b.                  Peribahasa yang tidak lengkap kalimatnya juga mempunyai sifat-sifat khusus, seperti: (1) kalimatnya tidak lengkap, (2) bentuknya sering berubah, (3) jarang mengungkapkan kebijaksanaan, (4) biasanya bersifat kiasan.
c.                   Peribahasa perumpamaan adalah ungkapan tradisional yang biasanya dimulai dengan kata-kata “seperti” atau “bagai” dan lain-lain.
d.                  Ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa adalah ungkapan-ungkapan yang dipergunakan untuk penghinaan (insult); nyeletuk (retort); atau suatu jawaban pendek, tajam, lucu, dan merupakan peringatan yang dapat menyakitkan hati (wisecracks).
S. Keyzer misalnya, telah mengklasifikasikan himpunan peribahasa Jawanya ke dalam lima golongan: (1) peribahasa mengenai binatang (ikan, burung, serangga, dan binatang menyusui); (2) peribahasa mengenai tanam-tanaman (pepohonan, buah-buahan, dan tanaman lainnya); (3) peribahasa mengenai manusia; (4) peribahasa mengenai anggota kerabat; dan (5) peribahasa mengenai fungsi anggota tubuh (Keyzer, 1862 dan 1862a).
Orang Bali telah mengklasifikan ungkapan tradisionalnya paling sedikit menjadi tiga kategori; (1) sesongan, yang dapat kita samakan dengan peribahasa sesungguhnya (true proverb) dari jens yang mempergunakan kalimat sederhana; (2) sesenggakan, yang dapat kita samakan dengan aphorism, yakni ungkapan pendek tepat serta mengandung kebenaran; dan (3) seloka, yang dapat kita samakan dengan metaphor, yakni kiasan atau ibarat.
Fungsi peribahasa, seperti juga folklor lisan, pada umumnya banyak, yakni sebagai sistem proyeksi, sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan, sebagai alat pendidikan anak, dan sebagai alat pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat agar selalu dipatuhi (Bascom, 1965a; 279-278). Peribahasa juga sebaga alat komunikasi, terutama dalam hal pengendalian masyarakat (social control), yang secara konkret untuk mengkritik seorang yang telah melanggar norma mudah diterima dan lebih kena sasarannya daripada dengan celaan langsung. Akhirnya menurut kami masih ada satu lagi fungsi peribahasa yang cukup penting, yakni memamerkan kepandaian seseorang, karena dengan mampu mengucapkan kebanyakan peribahasa folknya oleh anggota folknya ia akan disegani sebagai seorang yang bijak. Jadi dapat juga dikatakan peribahasa berfungsi sebagai alat untuk memperoleh gengsi dalam masyarakat.
     Contoh ungkapan dalam Banjar peribahasa perumpamaan yaitu “muha rasa ditapas”. Yang mengibaratkan menanggung malu yang luar biasa.
    
(3)   Pertanyaan Tradisional
Pertanyaan tradisional, di Indonesia lebih terkenal dengan nama teka-teki, adalah pertanyaan yang bersifat tradisional dan mempunyai jawaban yang tradisional pula. Pertanyaan dibuat sedemikian rupa, sehingga jawabannya sukar, bahkan seringkali juga baru dapat dijawab setelah mengetahui lebih dahulu jawabnya. Menurut Robert A. Georges dan Alan Dundes teka-teki adalah “Ungkapan lisan tradisional yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan (descriptive), sepasang daripadanya dapat saling bertentangan dan jawabnya (referent) harus diterka” (George & Dundes, 1963: 113).
Teka-teki dapat digolongkan ke dalam dua kategori umum, yakni: (1) teka-teki yang tidak bertentangan (monoppositional riddles), dan (2) teka-teki yang bertentangan (oppositional riddles). Pembagian itu berdasarkan ada atau tidak adanya pertentangn di antara unsur-unsur pelukisan. Pada teka-teki yang tidak bertentangan, yang bersifat harfiah, jawab (referent) dan pertanyaannya (topiknya) adalah identik. Keadaan akan menjadi lain pada teka-teki yang tidak bertentangan yang bersifat kiasan; karena referen dan topik unsur pelukisannya berbeda. Teka –teki bertentangan (oppositional riddles) berciri pertentangan antara paling sedikit sepasang unsur pelukisannya (descriptive elements).
Archer Taylor di dalam bukunya yang berjudul English Riddles from Oral Tradition (1951), telah membedakan teka-teki dalam dua golongan umum, yakni: (1) teka-teki yang sesungguhnya (true riddle)  adalah perbandingan di antara (a) jawab yang tidak diberitahukan, dan (b) sesuatu yang dilukiskan dalam pertanyaan. dan (2) teka-teki yang tergolong bentuk lainnya: teka-teki yang termasuk dalam golongan ini ada lima jenis, yakni (1) pertanyaan yang bersifat teka-teki (riddling questions), atau disebut juga pertanyaan yang cerdik (clever questions) adalah teka-teki yang jawabnya tidak diramalkan sebelumnya; (2) pertanyaan yang bersifat permainan kata-kata (punning) adalah teka-teki yang terbentuk dari permainan kata-kata dengan lucu. Kata-kata yang dipergunakan sama, namun mempunyai arti yang berbeda; (3) pertanyaan yang bersifat permasalahan (problem atau puzzle) adalah teka-teki yang berhubungan dengan Kitab Injil, ilmu hitung, silsilah, atau pertanyaan praktis; (4) pertanyaan perangkap (catch questions) adalah teka-teki bentuk lain, yang dipergunakan untuk membuat orang yang kurang waspada malu karena terperdaya; dan (5) pertanyaan yang bernada lelucon (riddle joke) yakni lelucon mengenai orang idiot  (Brunvand, 1968: 52-58).
Teka-teki juga mempunyai fungsi atau guna. Beberapa fungsi itu menurut Alan Dundes adalah; (1) untuk menguji kepandaian seseorang, (2) untuk meramal, (3) sebagai bagian dari upacara perkawinan, (4) untuk mengisi waktu pada saat bergadang menjaga jenazah, (5) untuk dapat melebihi orang lain (Dundes, 1968: 8).

(4)   Sajak dan Puisi Rakyat
Sajak atau puisi rakyat adalah kesusatraan rakyat yang sudah tertentu bentuknya, biasanya terjadi dari beberapa deret kalimat, ada yang berdasarkan mantra, ada yang berdasarkan panjang pendek suku kata, lemah tekanan suara, atau hanya berdasarkan irama. Puisi rakyat berbentuk macam-macam, antara lain dapat berbentuk ungkapan tradisional (peribahasa), pertanyaan tradisional (teka-teki), cerita rakyat, dan kepercayaan rakyat yang berupa mantra-mantra. Suatu bentuk sajak rakyat yang patut mendapatkan perhatian para peneliti folklor adalah sajak rakyat untuk kanak-kanak (nursery rhyme), sajak permainan (play rhyme), dan sajak untuk menentukan siapa yang “jadi” dalam satu permainan atau tuduhan (counting out rhyme).
Fungsi genre ini sudah tentu juga banyak. Di antaranya yang dapat kita kemukakan adalah: (1) sebagai alat kendali sosial, yang nyata sekali dapat kita rasakan pada sajak Sunda yang tergolong sisindiran; (2) untuk hiburan, terutama untuk menghibur anak bayi dan anak kecil yang lebih besar, seprti yang dapat kita rasakan pada sajak kanak-kanak; (3) untuk memulai suatu permainan; dan (4) untuk menekan atau mengganggu orang-orang lain.
Contoh sajak kanak-kanak Banjar ini dnyanyikan untuk menidurkan bayi. yaitu
“Yuuuuun, si anu ayuuuun
Ayunakan dalam ayunan
Guring guring si anu guring
Guringakan dalam ayunan
Lailahaillallah muhammadarsulullah”

(6)     Nyanyian Rakyat
Menurut Jan Harold Brunvand, nyanyian rakyat adalah salah satu genre atau bentuk folklor yang terdiri dari kata-kata dan lagu, yang beredar secaralisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional, serta banyak mempunyai varian (Brunvand, 1968: 130). Dalam nyanyian rakyat kata-kata dan lagu merupakan dwitunggal yang tak terpisahkan, sehingga salah besar jika dalam pengumpulan nyanyian rakyat ornaag tidak sekaligus mengumpulkan lagunya. Nyanyian rakyat dapat dibedakan dari nyanyian lainnya, seperti nyanyian pop atau klasik (art song), karena sifatnya yang mudah dapat berubah-ubah, baik bentuk meupun isinya.
Nyanyian pop biasanya lebih bersifat stereotipis daripada lagu seriosa (Brunvand, 1968: 131). Umur nyanyian rakyat lebih panjang daripada nyanyia pop. Ciri yang membedakan nyanyian rakyat dari nyanyian pop dan nyannyian seriosa adalah penyebarannya yang melalui lisan, sehingga bersifat tradisi lisan dan dapat menimbulkan varian-varian.
Jenis-Jenis Nyanyian Rakyat:
Berhubung nyanyian rakyat terdiri dari dua unsur yang penting, yakni lirik (kata0kata) dan lagu, maka sudah tentu dalam kenyataannya dapat saja terjadi bahwa salah satu unsurnya akan lebih menonjol daripada unsur yang lain. Oleh karenanya, maka ada nyanyian rakyat yang liriknya, jika dibandingkan dengan lagunya, tidak penting, atau sebaliknya, yang lebih dipentingkan daripada liriknya. Oleh Brunvand nyanyian rakyat semacam ini disebut proto folksong atau nyanyian rakyat yang bersifat permulaan.kemudidan ada nyanyian rakyat macam kedua, yang terjadi bila liriknya lebih menonjol daripada lagunya.
Di bawah ini kami akan menyajikan beberapa nyanyian rakyat yang tergolong pada nyanyian rakyat yang sesungguhnya.
(a)      Nyanyian rakyat yang berfungsi adalah nyanyian rakyat yang kata-kata dan lagunya memegang peranan yang sama penting.
1.        Nyanyian kelonan, yakni nyanyian yang mempunyai lagu dan irama yang halus tenang, berulang-ulang, ditambah dengan kata-kata kasih sayang.
2.        Nyanyian kerja, yakni nyanyian yang mempunyai irama dan kata-kata yang bersifat menggugah semangat, shingga dapat menimbulkan rasa gairah untuk bekerja.
3.        Nyanyian permainan, yakni nyanyian yang mempunyai irama gembira serta kata-kata lucu dan selalu dikaitkan dengan permainan bermain atau permainan bertanding.
(b)     Nyanyian rakyat yang bersifat liris, yakni nyanyian rakyat yang teksnya bersifat liris, yangg merupakan rasa haru pengarangnya yang anonim itu, tanpa menceritakan kisah yang bersambung.
1.        Nyanyian rakyat liris yang sesungguhnya, yakni nyanyian-nyanyian yang liriknya mengungkapkan perasaan tanpa menceritakan suatu kisah yang bersambung.
2.        Nyanyian rakyat liris yang bukan sesungguhnya, yakni nyanyian rakyat yang liriknya menceritakan kisah yang bersambung.
2.a. Nyanyian rakyat yang bersifat kerohanian dan keagamaan lainnya.
2.b. Nyanyian rakyat yang memberi nasihat untuk berbuat baik.
2.c. Nyanyian rakyat yang mengenai pacaran dan pernikahan.
2.d. Nyanyian bayi dan kanak-kanak.
2.e. Nyanyian bertimbun banyak.
2.f. Nyanyian jenaka
2.g. Nyanyian-nyanyian daerah dan orang-orang yang mempunyai mata pencarian tertentu.
c.    Nyanyian rakyat yang bersifat berkisah (narratibe folksongs), yaitu nyanyian rakyat yang menceritakan suatu kisah.
Fungsi-fungsi nyanyian rakyat sudah terang ada banyak. Yang paling menonjol adalah fungsi rekreatif, yaitu untuk merenggut kita dari kebosanan hidup sehari-hari walaupun untuk sementara waktu. Fungsi yang kedua adalah sebagai pembangkit semangat. Fungsi yang ketiga adalah untuk memelihara sejarah setempat, klen, dan sebagainya. Fungsi keempat adalah sebagai protes sosial, protes mengenai ketidakadilan dalam masyarakat atau negara bahkan dunia.
Contoh nyanyian rakyat Banjar yakni seperti ampar-ampar pisang, pambatangan, saputangan babuncu ampat.

B.       Beberapa Contoh Folklor Sebagian Lisan Indonesia
(1)     Kepercayaan Rakyat
Kepercayaan rakyat, atau yang sering kali juga disebut “takhayul”, adalah kepercayaan yang oleh orang berpendidikan Barat dianggap sederhana bahkan pandir, tidak berdasarkan logika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pertama takhayul mencakup bukan saja kepercayaan, melainkan juga kelakuan, pengalaman-pengalaman, ada kalanya juga alat, dan biasanya juga ungkapan serta sajak (Brunvand, 1968: 178). Kedua dalam kenyataannya dapat dikatakan bahwa tidak ada orang, yang bagaimanapun modernnya, dapat bebas dari takhayul, baik dalam hal kepercayaannya maupun dalam hal kelakuannya (Brunvand, 1968: 178).
Takhayul yang pertama adalah berdasarkan hubungan sebab akibat menurut hubungan sosiasi, misalnya: (1) persamaan waktu, (2) persamaan wujud, (3) totalitas dan bagian, dan (4) persamaan bunyi sebutan. Sedangkan takhayul yang kedua, yaitu perbuatan manusia yang dilakukan dengan sengaja yang menyebabkan suatu “akibat”, adalah kepercayaan kepada kekuatan sakti (Koentjaraningrat, 1967: 265-274).
“Takhayul adalah ungkapan tradisional dari satu atau lebih syarat, dan satu atau lebih akibat; beberapa dari syarat-syaratnya bersifat tanda, sedangkan yang lainnya bersifat sebab.” (Dundes, 1961: 179). Berhubung takhayu adalah semacam ungkapan tradisional, maka iaa termasuk juga dalam folklor, tetapi berbeda dengan ungkapan tradisional lainnya, takhayul berdasarkan asumsi atas kesadaran atau bukan kesadaran mengenai syarat-syarat dan akibat-akibat, sebab dan akibat dalam dunia kehidupan sehari-hari. Walaupun asumsi itu tidak ilmiah, aspek kepercayaan takhayul dan aspek perbuatan takhayul sangat luas persebarannya di semua lapisan masyarakat (Brunvand, 1968: 179).
Hand menggolongkan takhayul ke dalam empat golongan besar: (1) takhayul di sekitar lingkungan hidup manusia; (2) takhayul mengenai alam gaib; (3) takhayul mengenai terciptanya alam semesta dan dunia; (4) jenis takhayul lainnya.

(2)     Permainan Rakyat
Permainan rakyat di dunia ini, untuk orang dewasa maupun untuk kanak-kanak, biasanya berdasarkan gerak tubuh seperti lari, dan lompat; atau berdasarkan kegiatan sosial sederhana, seperti kejar-kejaran, sembunyi-sembunyian, dan berkelahi-kelahian; atau berdasarkan matematika dasar atau kecekatan tangan, seperti menghitung, dan melempar batu ke suatu lubang tertentu; atau berdasarkan keadaan untung-untungan, seperti main dadu (Brunvand, 1968: 227).
Berdasarkan sifat perbedaan sifat permainan, maka permainan rakyat (folk games) dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu permainan untuk bermain (play) dan permainan untuk bertanding (game). Perbedaan permainan bermain dan permainan bertanding adalah bahwa yang pertama lebih bersifat untuk mengisi waktu senggang atau rekreasi, sedangkan yang kedua bersifat kurang mempunyai sifat itu.
Permainan bertanding dapat pula dibagi lagi ke dalam; (1) permainan bertanding yang bersifat keterampilan fisik (game of physical skill), (2) permainan bertanding yang bersifat siasat (game of strategy) (3) dan permainan bertanding yang bersifat untung-untungan (game of change) (Roberts dan Sutton Smith, 1971: 466).
Pada beberapa suku bangsa yang masih tradisional, seperti orang Bali dari desa Trunyan, permainan rakyat dapat pula digolongkan lagi menjadi permainan rakyat yang bersifat sekuler (keduniawian) dan permainan rakyat yang bersifat sakral. Selain itu, di desa itu permainan rakyat dapat pula digolongkan berdasarkan perbedaan unsur (orang dewasa dan kanak-kanak), berdasarkan perbedaan jenis kelamin (pria dan wanita), berdasarkan perbedaan kedudukan dalam masyarakat atau lapisan sosial (kalangan atas dan kalangan bawah, para bangsawan dan orang kebanyakan). Permainan bertanding di Trunyan dapat juga digolongkan ke dalam yang bersifat keterampilan fisik untuk kanak-kanak Trunyan misalnya adalah: tembing, mancingklak, bola sepak, tajen-tajenan, mapadu keliki, pinceran, ter, kelas-kelasan, dan bergulat di pasir.
Permainan bertanding sekuler yang bersifat keterampilan fisik bagi orang laki-laki dewasa Trunyan adalah pencak silat. Permainan bertanding yang bersifat siasat untuk kanak-kanak Trunyan adalah macan-macanan singkung, sedangkan bagi orang dewasanya adalah permainan kartu yang disebut cekian dan dom. Permainan bertanding sekuler yang bersifat untung-untungan di Desa Trunyan ada beberaa, yaitu matogtog, cap deki, dan main dadu. Permainan bertanding yang bersifat sakral atau ritual di Desa Trunyan adalah adu tingkih (kemiri atau candle nut) dan tajen (sabungan ayam). Khusus untuk memulai suatu permainan bertanding bagi kanak-kanak di Trunyan, yaitu untuk menentukan siapa yang harus “menjadi”, misalnya dalam permainan kejar-kejaran untuk menentukan siapa yang harus mengejar, ada semacam undian yang disebut mepang dan masut.
Fungsi permainan rakyat yang peling menonjol adalah fungsi rekreasinya, fungsi ini menjadi sangat penting bagi petani pedesaan yang bertempat tinggal di daerah pedalaman yang sangat terpencil dan kurang mempunyai hiburan yang lain kecuali permainan dan kegiatan kesenian. Fungsi yang lain adalah sebagai media belajar. Fungsi lain lagi adalah fungsi pedagogi yang mendidik seorang anak, juga orang tertentu, permainan rakyat juga berfungsi untuk mengambil hati serta menghibur roh-roh halus.
     Contoh permainan Banjar menyanyikan lagu
     “Cang kacang panjang siapa panjang ajak
     Dek pendek pendek siapa pendek ajak
     Rak merak merak siapa merak ajak
     Cup kuncup kuncup siapa kuncup ajak
     Rang hirang-hirang siapa hirang ajak
     Tih putih putih siapa putih ajak”

C.       Sebuah Contoh Folklor Bukan Lisan
Makanan Rakyat
Apakah suatu bahan itu merupakan makan atau bukan makan, sangat ditentukan kebudayaan kolektif masing-masing. Kesimpulan tadi sesuai sekali dengan pendapat George M. Foster dan Barbara Gallatin Anderson yang mengatakan bahwa kebudayaan adalah yang menentukan suatu itu merupakan makanan atau bukan (1976: 265).
Konsep Makanan
Makanan adalah yang tumbuh di wasah, ladang, dan kebun. Ia dapat juga berasal dari laut atau dipelihara di halaman, padang rumput atau di daerah peternakan; yang dpaat di beli di pasar, di warung, dan di rumah makan.
Cara Memperoleh Makanan
Cara memproleh makanan ada macam-macam. Namun dalam garis besarnya dapat digolongkan menjadi dua kategori, yakni langsung mengambilnya dari alam seperti meramu, berburu, dan menangkap ikan atau binatang laut lainnya; dan dengan memproduksikannya.
Cara Pengolahan Makanan
Levi-Strauss mengatakan bahwa makanan manusia secara keseluruhan dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yakni: melalui proses pemasakan; melalui proses peragian; dan makanan yang masih mentah, dalam arti bebas dari salah satu cara pengolahan.
Cara Penyajian
Cara penyajian makanan dapat bersifat sederhana, tetapi dapat juga bersifat megah. Untuk sehari-hari penyediaan sederhana, sednagkan untuk pesta atau upacara adalah lebih rumit, bahkan sering kal juga lebih sedap untuk dipandang daripada dimakan.
Fungsi Makanan
Jenis makanan mempunyai arti simbolik, dalam arti mempunyai arti sosial, agama, dan lain-lain. Arti sosial dalam arti mempunyai fungsi kemasyarakatan seperti untuk mempererat kesatuan desa, memperkukuh kedudukan golongan tertentu dalam masyarakat, membedakan status golongan berdasarkan perbedaan seks, usia, kasta, dan lain-lain. Makan bersama  untuk memperingati hari jadi desa berfungi untuk mempererat kesatuan desa.
Menurut Foster dan Anderon secara simbolis makanan sedikitnya dapat berupa empat ungkapan, yakni (a) ikatan sosial, (b)solidaritas kelompok, (c) makanan dan ketegangan jiwa, dan (d) dimbolisme makanan dalam bahasa (1975: 263-271).
Contoh makanan banjar, dalam selamatan atau acara syukuran biasanya masyarakat menyajikan lakatan. Yang terbuat dari beras lakatan dan hinti nyiur (parutan kelapa).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar