Raudatul Janah
PBS/ PBSI REGULAR '10
Sastra Banjar II
Drs. Rustam Effendi, M. Pd., Ph. D.
RESUMAN
A.
Beberapa
contoh folklor lisan Indonesia
Beberapa
contoh folklor lisan Indonesia yang akan kami sajikan dalam karangan ini adalah
mengenaui (a) bahasa rakyat, (b) ungkapan tradisional, (c) pertanyaan
tradisional, (d) sajak dan puisi rakyat, (e) cerita prosa rakyat dan (f)
nyanyian rakyat.
(1) Bahasa
Rakyat
Bentuk-bentuk
folklor Indonesia yang termasuk dalam kelompok bahasa rakyat adalah logat (dialek) bahasa-bahasa Nusantara. Bentuk
lain bahasa rakyat adalah slang.
Menurut kamus Wheter’s New World
Dictionary of the American Language (1959), asal slang adalah kosa kata dan
idiom para penjahat gelandangan atau kolektif khusus. Maksud diciptakannya
bahasa slang ini adalah untuk menyamarkan arti bahasanya terhadap orang luar.
Pada masa kini slang dalam arti khusus itu (bahasa rahasia) disebut cant. Di Jakarta misalnya cant adalah istilah-istilah rahasia yang
dipergunakan tukang copet seperti: jengkol dan rumput. Cant khusus milik penjahat sering juga disebut argot. Bentuk cant atau bahasa rahasia yang lain adalah yang
dimiliki para homoseks (gay) laki-laki di Jakarta yang mencari nafkah sebagai
penata rambut, perancang pakaian, peragawan, dan sebagainya.
Bahasa
rakyat lainnya yang mirip dengan slang adalah yang disebut shop talk atau bahasa para pedagang. Selanjutnya bentuk lain slang
adalah colloquial, yakni bahasa
sehari-hari yang menyimpang dari bahasa konvensional. Bentuk bahasa rakyat yang
lain adalah yang disebut sirkumlokusi (circumloution),
yaitu ungkapan tidak langsung. Bentuk bahasa rakyat yang lain lagi di Indonesia
adalah cara pemberian nama pada seseorang. Sehubungan dengan cara pemberian
nama, di Indonesia juga ada kebiasaan untuk memberi julukan kepada seseorang,
selain nama pribadinya. Bentuk folklor lainnya yang juga termasuk dalam
golongan bahasa rakyat adalah gelar kebangsawanan atau jabatan tradisional.
Bentuk
lain lagi bahasa rakyat adalah yang disebut bahasa bertingkat (speech level). Bahasa bertingkat adalah
bahasa yang dipergunakan dengan mengingat akan adanya perbedaan dalam lapisan
masyarakat, tingkatan masyarakat, atau tingkatan umur. Bentuk lain dari bahasa
rakyat adalah yang disebut kata-kata onomatopoetis (onomatopoetic), yakni kata-kata yang dibentuk dengan mencontoh
bunyi atau suara alamiah. Bentuk terakhir bahasa rakyat yang akan kami
kemukakan di sini adalah yang disebut onomastis (onomastic), yakni nama tradisional jalan atau tempat-tempat
tertentu yang mempunya legenda sebagai sejarah terbentuknya.
Fungsi
bahasa rakyat sedikitnya ada empat, yakni: (a) untuk memberi serta memperkokoh
identitas folknya (slang, cant, shop talk, argot, jargon, nama gelar, bahasa
bertingkat, colloquial, onomatopoetis, dan ononastis); (b) untuk melindungi
folk pemilik folklor itu dari ancaman kolektif lain atau penguasa (slang,
bahasa rahasia, dan cant); (c) untuk memperkokoh kedudukan folknya pada jenjang
pelapisan masyarakat (gelar dan bahasa bertingkat); dan (d) untuk memperkokoh
kepercayaan rakyat dari folknya (sirkomlokusi dan julukan atau alias yang
diberikan kepada anak-anak yang buruk kesehatannya.
Contoh
bahasa rakyat dalam Banjar adalah dalam penukaran nama sering dilakukan dengan
nama yang lebih jelek, seperti anak yang badannya terlalu gemuk, maka dia
dipanggil dengan dibelakang namanya ada tambahan lamak.
(2) Ungkapan
Tradisional
Cervantes
mendefinisikan ungkapan tradisional sebagai “kalimat pendek yang disarikan dari
pengalaman yang panjang”, sedangkan Bertrand Russel mengangganya sebagai
“kebijaksanaan orang banyak yang merupakan kecerdasan seorang” (the wisdom of many, the wit of one)
(lihat Dundes, 1968). Carl Wilhelm von Sydow, sewaktu ia membuat penggolongan
orang-orang yang mengetahui suatu bentuk folklr. Orang-prang itu oleh Sydow
digolongkan mejadi dua: pewaris pasif (passive
bearer) dan pewaris aktif (active
bearer) adalah pewaris folklor yang sekedar mengetahui dan dapat menikmati
suatu bentuk folklor, namun tidak dapat atau tidak berminat untuk
menyebarkannya secara aktif pada orang lain.
Ungkapan
tradisional mempunyai sifat hakiki, yang perlu diperhatian oleh mereka yang
hendak menelitinya: (a) peribahasa harus berupa satu kalimat ungkapan, tidak
cukup hanya berupa satu kata tradisional saja, (b) peribahasa ada dalam bentuk
yang sudah standar, (c) suatu peribahasa harus mempunyai vitalitas (daya hidup)
tradisi lisan, yang dapat dibedakan dari bentuk-bentuk klise tulisan yang
berbentuk syair, iklan, reportase olahraga, dan sebagainya (Brunvand, 1968:
38).
Peribahasa
dapat dibagi menjadi empat golongan besar, yakni:
a.
Peribahasa
yang sesungguhnya adalah ungkapan tradisional yang
mempunyai sifat-sifat: (1) kalimatnya lengkap, (2) bentuknya biasanya kurang
mengalami perubahan, (3) mengandung kebenaran atau kebijaksanaan.
b.
Peribahasa
yang tidak lengkap kalimatnya juga mempunyai
sifat-sifat khusus, seperti: (1) kalimatnya tidak lengkap, (2) bentuknya sering
berubah, (3) jarang mengungkapkan kebijaksanaan, (4) biasanya bersifat kiasan.
c.
Peribahasa
perumpamaan adalah ungkapan tradisional yang
biasanya dimulai dengan kata-kata “seperti” atau “bagai” dan lain-lain.
d.
Ungkapan-ungkapan
yang mirip peribahasa adalah ungkapan-ungkapan yang
dipergunakan untuk penghinaan (insult);
nyeletuk (retort); atau suatu jawaban
pendek, tajam, lucu, dan merupakan peringatan yang dapat menyakitkan hati (wisecracks).
S.
Keyzer misalnya, telah mengklasifikasikan himpunan peribahasa Jawanya ke dalam
lima golongan: (1) peribahasa mengenai binatang (ikan, burung, serangga, dan
binatang menyusui); (2) peribahasa mengenai tanam-tanaman (pepohonan,
buah-buahan, dan tanaman lainnya); (3) peribahasa mengenai manusia; (4)
peribahasa mengenai anggota kerabat; dan (5) peribahasa mengenai fungsi anggota
tubuh (Keyzer, 1862 dan 1862a).
Orang
Bali telah mengklasifikan ungkapan tradisionalnya paling sedikit menjadi tiga
kategori; (1) sesongan, yang dapat
kita samakan dengan peribahasa sesungguhnya (true proverb) dari jens yang
mempergunakan kalimat sederhana; (2) sesenggakan,
yang dapat kita samakan dengan aphorism, yakni ungkapan pendek tepat serta
mengandung kebenaran; dan (3) seloka,
yang dapat kita samakan dengan metaphor,
yakni kiasan atau ibarat.
Fungsi
peribahasa, seperti juga folklor lisan, pada umumnya banyak, yakni sebagai
sistem proyeksi, sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga
kebudayaan, sebagai alat pendidikan anak, dan sebagai alat pemaksa dan pengawas
norma-norma masyarakat agar selalu dipatuhi (Bascom, 1965a; 279-278).
Peribahasa juga sebaga alat komunikasi, terutama dalam hal pengendalian masyarakat
(social control), yang secara konkret
untuk mengkritik seorang yang telah melanggar norma mudah diterima dan lebih
kena sasarannya daripada dengan celaan langsung. Akhirnya menurut kami masih
ada satu lagi fungsi peribahasa yang cukup penting, yakni memamerkan kepandaian
seseorang, karena dengan mampu mengucapkan kebanyakan peribahasa folknya oleh
anggota folknya ia akan disegani sebagai seorang yang bijak. Jadi dapat juga
dikatakan peribahasa berfungsi sebagai alat untuk memperoleh gengsi dalam
masyarakat.
Contoh ungkapan dalam Banjar peribahasa
perumpamaan yaitu “muha rasa ditapas”. Yang mengibaratkan menanggung malu yang
luar biasa.
(3) Pertanyaan
Tradisional
Pertanyaan
tradisional, di Indonesia lebih terkenal dengan nama teka-teki, adalah
pertanyaan yang bersifat tradisional dan mempunyai jawaban yang tradisional
pula. Pertanyaan dibuat sedemikian rupa, sehingga jawabannya sukar, bahkan
seringkali juga baru dapat dijawab setelah mengetahui lebih dahulu jawabnya.
Menurut Robert A. Georges dan Alan Dundes teka-teki adalah “Ungkapan lisan
tradisional yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan (descriptive), sepasang daripadanya dapat
saling bertentangan dan jawabnya (referent)
harus diterka” (George & Dundes, 1963: 113).
Teka-teki
dapat digolongkan ke dalam dua kategori umum, yakni: (1) teka-teki yang tidak
bertentangan (monoppositional riddles),
dan (2) teka-teki yang bertentangan (oppositional
riddles). Pembagian itu berdasarkan ada atau tidak adanya pertentangn di
antara unsur-unsur pelukisan. Pada teka-teki yang tidak bertentangan, yang
bersifat harfiah, jawab (referent)
dan pertanyaannya (topiknya) adalah identik. Keadaan akan menjadi lain pada
teka-teki yang tidak bertentangan yang bersifat kiasan; karena referen dan
topik unsur pelukisannya berbeda. Teka –teki bertentangan (oppositional riddles) berciri pertentangan antara paling sedikit
sepasang unsur pelukisannya (descriptive
elements).
Archer
Taylor di dalam bukunya yang berjudul English
Riddles from Oral Tradition (1951), telah membedakan teka-teki dalam dua
golongan umum, yakni: (1) teka-teki yang sesungguhnya (true riddle) adalah perbandingan di antara (a) jawab yang
tidak diberitahukan, dan (b) sesuatu yang dilukiskan dalam pertanyaan. dan (2)
teka-teki yang tergolong bentuk lainnya: teka-teki yang termasuk dalam golongan
ini ada lima jenis, yakni (1) pertanyaan yang bersifat teka-teki (riddling questions), atau disebut juga
pertanyaan yang cerdik (clever questions)
adalah teka-teki yang jawabnya tidak diramalkan sebelumnya; (2) pertanyaan yang
bersifat permainan kata-kata (punning)
adalah teka-teki yang terbentuk dari permainan kata-kata dengan lucu. Kata-kata
yang dipergunakan sama, namun mempunyai arti yang berbeda; (3) pertanyaan yang
bersifat permasalahan (problem atau puzzle) adalah teka-teki yang berhubungan
dengan Kitab Injil, ilmu hitung, silsilah, atau pertanyaan praktis; (4)
pertanyaan perangkap (catch questions)
adalah teka-teki bentuk lain, yang dipergunakan untuk membuat orang yang kurang
waspada malu karena terperdaya; dan (5) pertanyaan yang bernada lelucon (riddle joke) yakni lelucon mengenai
orang idiot (Brunvand, 1968: 52-58).
Teka-teki
juga mempunyai fungsi atau guna. Beberapa fungsi itu menurut Alan Dundes
adalah; (1) untuk menguji kepandaian seseorang, (2) untuk meramal, (3) sebagai
bagian dari upacara perkawinan, (4) untuk mengisi waktu pada saat bergadang
menjaga jenazah, (5) untuk dapat melebihi orang lain (Dundes, 1968: 8).
(4) Sajak
dan Puisi Rakyat
Sajak
atau puisi rakyat adalah kesusatraan rakyat yang sudah tertentu bentuknya,
biasanya terjadi dari beberapa deret kalimat, ada yang berdasarkan mantra, ada
yang berdasarkan panjang pendek suku kata, lemah tekanan suara, atau hanya
berdasarkan irama. Puisi rakyat berbentuk macam-macam, antara lain dapat
berbentuk ungkapan tradisional (peribahasa), pertanyaan tradisional
(teka-teki), cerita rakyat, dan kepercayaan rakyat yang berupa mantra-mantra.
Suatu bentuk sajak rakyat yang patut mendapatkan perhatian para peneliti
folklor adalah sajak rakyat untuk kanak-kanak (nursery rhyme), sajak permainan (play rhyme), dan sajak untuk menentukan siapa yang “jadi” dalam
satu permainan atau tuduhan (counting out
rhyme).
Fungsi
genre ini sudah tentu juga banyak. Di antaranya yang dapat kita kemukakan
adalah: (1) sebagai alat kendali sosial, yang nyata sekali dapat kita rasakan
pada sajak Sunda yang tergolong sisindiran;
(2) untuk hiburan, terutama untuk menghibur anak bayi dan anak kecil yang lebih
besar, seprti yang dapat kita rasakan pada sajak kanak-kanak; (3) untuk memulai
suatu permainan; dan (4) untuk menekan atau mengganggu orang-orang lain.
Contoh
sajak kanak-kanak Banjar ini dnyanyikan untuk menidurkan bayi. yaitu
“Yuuuuun,
si anu ayuuuun
Ayunakan
dalam ayunan
Guring
guring si anu guring
Guringakan
dalam ayunan
Lailahaillallah
muhammadarsulullah”
(6) Nyanyian
Rakyat
Menurut
Jan Harold Brunvand, nyanyian rakyat adalah salah satu genre atau bentuk
folklor yang terdiri dari kata-kata dan lagu, yang beredar secaralisan di
antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional, serta banyak mempunyai
varian (Brunvand, 1968: 130). Dalam nyanyian rakyat kata-kata dan lagu
merupakan dwitunggal yang tak terpisahkan, sehingga salah besar jika dalam
pengumpulan nyanyian rakyat ornaag tidak sekaligus mengumpulkan lagunya.
Nyanyian rakyat dapat dibedakan dari nyanyian lainnya, seperti nyanyian pop
atau klasik (art song), karena
sifatnya yang mudah dapat berubah-ubah, baik bentuk meupun isinya.
Nyanyian
pop biasanya lebih bersifat stereotipis daripada lagu seriosa (Brunvand, 1968:
131). Umur nyanyian rakyat lebih panjang daripada nyanyia pop. Ciri yang
membedakan nyanyian rakyat dari nyanyian pop dan nyannyian seriosa adalah
penyebarannya yang melalui lisan, sehingga bersifat tradisi lisan dan dapat
menimbulkan varian-varian.
Jenis-Jenis Nyanyian Rakyat:
Berhubung
nyanyian rakyat terdiri dari dua unsur yang penting, yakni lirik (kata0kata)
dan lagu, maka sudah tentu dalam kenyataannya dapat saja terjadi bahwa salah
satu unsurnya akan lebih menonjol daripada unsur yang lain. Oleh karenanya,
maka ada nyanyian rakyat yang liriknya, jika dibandingkan dengan lagunya, tidak
penting, atau sebaliknya, yang lebih dipentingkan daripada liriknya. Oleh
Brunvand nyanyian rakyat semacam ini disebut proto folksong atau nyanyian rakyat yang bersifat
permulaan.kemudidan ada nyanyian rakyat macam kedua, yang terjadi bila liriknya
lebih menonjol daripada lagunya.
Di
bawah ini kami akan menyajikan beberapa nyanyian rakyat yang tergolong pada
nyanyian rakyat yang sesungguhnya.
(a) Nyanyian rakyat yang berfungsi
adalah nyanyian rakyat yang kata-kata dan lagunya memegang peranan yang sama
penting.
1.
Nyanyian kelonan, yakni nyanyian yang
mempunyai lagu dan irama yang halus tenang, berulang-ulang, ditambah dengan
kata-kata kasih sayang.
2.
Nyanyian kerja, yakni nyanyian yang
mempunyai irama dan kata-kata yang bersifat menggugah semangat, shingga dapat
menimbulkan rasa gairah untuk bekerja.
3.
Nyanyian permainan, yakni nyanyian yang
mempunyai irama gembira serta kata-kata lucu dan selalu dikaitkan dengan
permainan bermain atau permainan bertanding.
(b) Nyanyian rakyat yang bersifat liris,
yakni nyanyian rakyat yang teksnya bersifat liris, yangg merupakan rasa haru
pengarangnya yang anonim itu, tanpa menceritakan kisah yang bersambung.
1.
Nyanyian
rakyat liris yang sesungguhnya, yakni
nyanyian-nyanyian yang liriknya mengungkapkan perasaan tanpa menceritakan suatu
kisah yang bersambung.
2.
Nyanyian
rakyat liris yang bukan sesungguhnya, yakni nyanyian rakyat
yang liriknya menceritakan kisah yang bersambung.
2.a.
Nyanyian rakyat yang bersifat kerohanian dan keagamaan lainnya.
2.b.
Nyanyian rakyat yang memberi nasihat untuk berbuat baik.
2.c.
Nyanyian rakyat yang mengenai pacaran dan pernikahan.
2.d.
Nyanyian bayi dan kanak-kanak.
2.e.
Nyanyian bertimbun banyak.
2.f.
Nyanyian jenaka
2.g.
Nyanyian-nyanyian daerah dan orang-orang yang mempunyai mata pencarian
tertentu.
c. Nyanyian
rakyat yang bersifat berkisah (narratibe
folksongs), yaitu nyanyian rakyat yang menceritakan suatu kisah.
Fungsi-fungsi nyanyian rakyat sudah
terang ada banyak. Yang paling menonjol adalah fungsi rekreatif, yaitu untuk
merenggut kita dari kebosanan hidup sehari-hari walaupun untuk sementara waktu.
Fungsi yang kedua adalah sebagai pembangkit semangat. Fungsi yang ketiga adalah
untuk memelihara sejarah setempat, klen, dan sebagainya. Fungsi keempat adalah
sebagai protes sosial, protes mengenai ketidakadilan dalam masyarakat atau
negara bahkan dunia.
Contoh nyanyian rakyat Banjar yakni
seperti ampar-ampar pisang, pambatangan,
saputangan babuncu ampat.
B.
Beberapa
Contoh Folklor Sebagian Lisan Indonesia
(1) Kepercayaan
Rakyat
Kepercayaan
rakyat, atau yang sering kali juga disebut “takhayul”, adalah kepercayaan yang
oleh orang berpendidikan Barat dianggap sederhana bahkan pandir, tidak
berdasarkan logika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pertama takhayul mencakup bukan saja kepercayaan, melainkan juga kelakuan,
pengalaman-pengalaman, ada kalanya juga alat, dan biasanya juga ungkapan serta
sajak (Brunvand, 1968: 178). Kedua dalam kenyataannya dapat dikatakan bahwa
tidak ada orang, yang bagaimanapun modernnya, dapat bebas dari takhayul, baik
dalam hal kepercayaannya maupun dalam hal kelakuannya (Brunvand, 1968: 178).
Takhayul
yang pertama adalah berdasarkan hubungan sebab akibat menurut hubungan sosiasi,
misalnya: (1) persamaan waktu, (2) persamaan wujud, (3) totalitas dan bagian,
dan (4) persamaan bunyi sebutan. Sedangkan takhayul yang kedua, yaitu perbuatan
manusia yang dilakukan dengan sengaja yang menyebabkan suatu “akibat”, adalah
kepercayaan kepada kekuatan sakti (Koentjaraningrat, 1967: 265-274).
“Takhayul
adalah ungkapan tradisional dari satu atau lebih syarat, dan satu atau lebih
akibat; beberapa dari syarat-syaratnya bersifat tanda, sedangkan yang lainnya
bersifat sebab.” (Dundes, 1961: 179). Berhubung takhayu adalah semacam ungkapan
tradisional, maka iaa termasuk juga dalam folklor, tetapi berbeda dengan
ungkapan tradisional lainnya, takhayul berdasarkan asumsi atas kesadaran atau
bukan kesadaran mengenai syarat-syarat dan akibat-akibat, sebab dan akibat
dalam dunia kehidupan sehari-hari. Walaupun asumsi itu tidak ilmiah, aspek
kepercayaan takhayul dan aspek perbuatan takhayul sangat luas persebarannya di
semua lapisan masyarakat (Brunvand, 1968: 179).
Hand
menggolongkan takhayul ke dalam empat golongan besar: (1) takhayul di sekitar
lingkungan hidup manusia; (2) takhayul mengenai alam gaib; (3) takhayul
mengenai terciptanya alam semesta dan dunia; (4) jenis takhayul lainnya.
(2) Permainan
Rakyat
Permainan
rakyat di dunia ini, untuk orang dewasa maupun untuk kanak-kanak, biasanya
berdasarkan gerak tubuh seperti lari, dan lompat; atau berdasarkan kegiatan
sosial sederhana, seperti kejar-kejaran, sembunyi-sembunyian, dan
berkelahi-kelahian; atau berdasarkan matematika dasar atau kecekatan tangan,
seperti menghitung, dan melempar batu ke suatu lubang tertentu; atau
berdasarkan keadaan untung-untungan, seperti main dadu (Brunvand, 1968: 227).
Berdasarkan
sifat perbedaan sifat permainan, maka permainan rakyat (folk games) dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu
permainan untuk bermain (play) dan
permainan untuk bertanding (game).
Perbedaan permainan bermain dan permainan bertanding adalah bahwa yang pertama
lebih bersifat untuk mengisi waktu senggang atau rekreasi, sedangkan yang kedua
bersifat kurang mempunyai sifat itu.
Permainan
bertanding dapat pula dibagi lagi ke dalam; (1) permainan bertanding yang
bersifat keterampilan fisik (game of
physical skill), (2) permainan bertanding yang bersifat siasat (game of strategy) (3) dan permainan
bertanding yang bersifat untung-untungan (game
of change) (Roberts dan Sutton Smith, 1971: 466).
Pada
beberapa suku bangsa yang masih tradisional, seperti orang Bali dari desa Trunyan,
permainan rakyat dapat pula digolongkan lagi menjadi permainan rakyat yang
bersifat sekuler (keduniawian) dan permainan rakyat yang bersifat sakral.
Selain itu, di desa itu permainan rakyat dapat pula digolongkan berdasarkan
perbedaan unsur (orang dewasa dan kanak-kanak), berdasarkan perbedaan jenis
kelamin (pria dan wanita), berdasarkan perbedaan kedudukan dalam masyarakat
atau lapisan sosial (kalangan atas dan kalangan bawah, para bangsawan dan orang
kebanyakan). Permainan bertanding di Trunyan dapat juga digolongkan ke dalam
yang bersifat keterampilan fisik untuk kanak-kanak Trunyan misalnya adalah: tembing, mancingklak, bola sepak,
tajen-tajenan, mapadu keliki, pinceran, ter, kelas-kelasan, dan bergulat di
pasir.
Permainan
bertanding sekuler yang bersifat keterampilan fisik bagi orang laki-laki dewasa
Trunyan adalah pencak silat. Permainan bertanding yang bersifat siasat untuk
kanak-kanak Trunyan adalah macan-macanan
singkung, sedangkan bagi orang dewasanya adalah permainan kartu yang
disebut cekian dan dom. Permainan bertanding sekuler yang bersifat
untung-untungan di Desa Trunyan ada beberaa, yaitu matogtog, cap deki, dan main
dadu. Permainan bertanding yang bersifat sakral atau ritual di Desa Trunyan
adalah adu tingkih (kemiri atau candle nut) dan tajen (sabungan ayam). Khusus untuk memulai suatu permainan
bertanding bagi kanak-kanak di Trunyan, yaitu untuk menentukan siapa yang harus
“menjadi”, misalnya dalam permainan kejar-kejaran untuk menentukan siapa yang
harus mengejar, ada semacam undian yang disebut mepang dan masut.
Fungsi
permainan rakyat yang peling menonjol adalah fungsi rekreasinya, fungsi ini
menjadi sangat penting bagi petani pedesaan yang bertempat tinggal di daerah
pedalaman yang sangat terpencil dan kurang mempunyai hiburan yang lain kecuali
permainan dan kegiatan kesenian. Fungsi yang lain adalah sebagai media belajar.
Fungsi lain lagi adalah fungsi pedagogi yang mendidik seorang anak, juga orang
tertentu, permainan rakyat juga berfungsi untuk mengambil hati serta menghibur
roh-roh halus.
Contoh permainan Banjar menyanyikan lagu
“Cang kacang panjang siapa panjang ajak
Dek pendek pendek siapa pendek ajak
Rak merak merak siapa merak ajak
Cup kuncup kuncup siapa kuncup ajak
Rang hirang-hirang siapa hirang ajak
Tih putih putih siapa putih ajak”
C.
Sebuah
Contoh Folklor Bukan Lisan
Makanan Rakyat
Apakah
suatu bahan itu merupakan makan atau bukan makan, sangat ditentukan kebudayaan
kolektif masing-masing. Kesimpulan tadi sesuai sekali dengan pendapat George M.
Foster dan Barbara Gallatin Anderson yang mengatakan bahwa kebudayaan adalah
yang menentukan suatu itu merupakan makanan atau bukan (1976: 265).
Konsep Makanan
Makanan
adalah yang tumbuh di wasah, ladang, dan kebun. Ia dapat juga berasal dari laut
atau dipelihara di halaman, padang rumput atau di daerah peternakan; yang dpaat
di beli di pasar, di warung, dan di rumah makan.
Cara Memperoleh Makanan
Cara
memproleh makanan ada macam-macam. Namun dalam garis besarnya dapat digolongkan
menjadi dua kategori, yakni langsung mengambilnya dari alam seperti meramu,
berburu, dan menangkap ikan atau binatang laut lainnya; dan dengan
memproduksikannya.
Cara Pengolahan Makanan
Levi-Strauss
mengatakan bahwa makanan manusia secara keseluruhan dapat digolongkan menjadi
tiga jenis, yakni: melalui proses pemasakan; melalui proses peragian; dan
makanan yang masih mentah, dalam arti bebas dari salah satu cara pengolahan.
Cara Penyajian
Cara
penyajian makanan dapat bersifat sederhana, tetapi dapat juga bersifat megah.
Untuk sehari-hari penyediaan sederhana, sednagkan untuk pesta atau upacara
adalah lebih rumit, bahkan sering kal juga lebih sedap untuk dipandang daripada
dimakan.
Fungsi Makanan
Jenis
makanan mempunyai arti simbolik, dalam arti mempunyai arti sosial, agama, dan
lain-lain. Arti sosial dalam arti mempunyai fungsi kemasyarakatan seperti untuk
mempererat kesatuan desa, memperkukuh kedudukan golongan tertentu dalam
masyarakat, membedakan status golongan berdasarkan perbedaan seks, usia, kasta,
dan lain-lain. Makan bersama untuk
memperingati hari jadi desa berfungi untuk mempererat kesatuan desa.
Menurut
Foster dan Anderon secara simbolis makanan sedikitnya dapat berupa empat
ungkapan, yakni (a) ikatan sosial, (b)solidaritas kelompok, (c) makanan dan
ketegangan jiwa, dan (d) dimbolisme makanan dalam bahasa (1975: 263-271).
Contoh
makanan banjar, dalam selamatan atau
acara syukuran biasanya masyarakat menyajikan lakatan. Yang terbuat dari beras
lakatan dan hinti nyiur (parutan
kelapa).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar